Kamis, 28 November 2013

cerpen aku dan kamu


Aku dan Kamu


Aku memasuki kelas baruku dan tentunya dengan teman baru pula. Aku mengambil tempat duduk paling belakang dengan teman kelas sepuluhku dulu.
Tak terasa aku sudah kelas sebelas dan mengambil jurusan IPA sesuai dengan jurusan yang aku inginkan. Di kelas baruku ini tidak ada seorangpun yang aku kenal selain teman kelas sepuluhku dulu, itupun hanya ada 5 orang. Aku mencoba untuk beradaptasi dengan teman baruku. Setelah selang waktu satu bulan, aku mulai mengenal mereka meskipun hanya separuh dari jumlah siswa yang ada di kelas ini.
 Di kelas baruku ini, aku dan teman-teman  bermain dan bercanda ria. Tapi ada seorang wanita yang paling aku senang ganggu, yaitu Feni. Setiap hari aku selalu gangguin dia di kelas, bahkan bisa di bilang  tiada hari tanpa gangguin dia.  Padahal aku dan dia tidak begitu saling kenal, tapi entah  mengapa aku  senang sekali gangguin dia. Pernah suatu saat Feni terlambat datang ke sekolah, bukannya aku menasehati atau bertanya ke dia kenapa terlambat datang  ke sekolah  malah saya mengejek dia.
Makanya kalau bangun itu pagian biar  tidak terlambat, ucap saya ke Feni sambil tertawa.
Mau sih saya terlambat, kenapa kamu yang  marah, ucap Feni ke saya dengan rauh wajah yang kesal.
Jadi cewek kok tidak bisa bangun pagi, ucap saya ke Feni.
Hey...urus saja urusamu sendiri, ngapain kamu urus-urusan orang  lain ?, ucap Feni ke saya.
Mau sih saya,  jawab saya sambil ter tawa.
Diam saja kamu tidak usah banyak omong, ucap Feni ke saya.
Fenipun duduk di tempat duduknya dan mengikuti pelajaran.
Meskipun jam belajar sedang berlangsung, sempat-sempatnya saya masih mengejek Feni, tetapi disisi lain aku merasa kasian  sudah  mengejek dia. Bukannya saya minta maaf  ke dia,  malahan tetap saja mengejek dia.
Hari-hariku di kelas selalu saja mengejek atau menjaili Feni, tetapi  meskipun aku selalu mengejek atau menjaili dia, dia tidak pernah marah palingan dia hanya bisa senyum dan membalas mengejek saya. Suatu ketika saya merasa menyesal sudah  mengejek, waktu itu dia ditilang pak polisi pas berangkat ke sekolah. Sesampai di kelas dia menangis dan menceritakan kejadian yang dia alami itu ke teman sebangkunya. Tanpa disengaja aku mengetahui kalau Feni di tilang pak polisi, akupun mengejek dia.
Hey...teman-teman, kalian mau tahu sesuatu tidak, ucap saya ke semua teman kelas.
Apa itu ?, ucap semua teman kelas.
 Tadi ada teman kita pas mau berangkat ke sekolah ditilang polisi terus dia nangis lagi, jawab saya ke teman-teman sambil tertawa.
Feni yang  merasa dirinya disindir, langsung menatap saya dengan raut wajah yang amat marah, dan berkata “ males saya sama kamu”.
Meskipun aku sudah dimarahin sama Feni, masih saja aku mengolok dan menertawakan dia. Setelah beberapa hari berlalu, aku merasa bersalah banget sama Feni dengan kejadian tempo hari yang lalu. Bukannya aku prihatin sama dia, malah saya mempermalukan, mengolok dan menertawakan dia. Aku berfikir, kalau saya ini jahat sekali sama orang.
Kejailan aku ke Feni bukan sampai di sana saja, malah setiap hari saya selalu gangguin dia, ngolok dia. Sampai-sampai teman kelas aku semua ngedoain aku pacaran sama Feni. Karena mereka semua menilai aku cocok sekali jika aku pacaran sama Feni, sebab setiap hari mereka semua melihat dan mendengarkan aku bertengkar sama Feni.
Haripun berlalu begitu cepat. Tiba – tiba rasa suka itu ada buat Feni. Waktu itu di tempat futsal di luar jam pelajaran sekolah, Feni dan teman akrabnya yaitu Fira, melihat aku dan teman-teman kelas sedang bermain futsal. Perasaan aku begitu senang sekali ketika melihat Feni menonton saya sedang main futsal, akupun bersemangat sekali mainnya. Tetapi perasaan senang dan semangat itu tiba-tiba berubah, ketika aku sedang melihat Feni duduk berdua dengan cowok lain yaitu mantan kekasihnya. Perasaan dan pikiranku jadi tidak karuan setelah aku melihat Feni yang sedang duduk dengan mantan kekasihnya itu. Akupun jadi tidak konsen di dalam lapangan, selalu memikirkan Feni. Fenipun pulang dari tempat futsal itu bersama cowok mantan kekasihnya itu. Kamipun selesai bermain futsal. Di luar lapangan, aku malah di olok-olok sama teman- teman termasuk teman dekatnya Feni yaitu Fira.
Aduh, ada yang lagi sakit hati ini, ucap teman-teman ke aku.
Siapa yang sakit hati, biasa saja kok, jawab aku.
Seandainya saya lihat orang yang saya taksir jalan sama cowok lain, nangis sudah saya, teman-teman menyidirku.
Biasa saja sobat, jawab aku.
Tembak sudah dia, nanti diambil orang, ucap teman-teman ke aku.
Siapa yang suka sama dia, jawab aku
Teman-temanku selalu saja mengolok-olok aku, tetapi aku selalu menyangkalnya. Meskipun aku selalu menyangkalnya tetapi dihatiku berkata lain bahwa aku itu ada rasa suka sama Feni.
Pada waktu malam hari, aku dan teman-temanku pergi les fisika tetapi pak gurunya lagi sakit kamipun tidak jadi les dan kami memutuskan pergi cari warung makan untuk makan. Beberapa saat kemudian kamipun tiba di warung makan dan makan bersama. Selesai kami makan, teman dekatnya Feni yaitu Fira memberi tahukan sesuatu tentang Fira.
Fira memanggilku. Sini sebentar saya mau ngomong sama kamu.
Mau ngomong apa Fir ?
Kamu tahu tidak, kalau Feni itu suka sama kamu.
Kenapa dia suka sama aku ?, ucap aku ke Fira.
Kamu yang buat dia suka sama kamu, jawab Fira.
Lalu saya terdiam, ketika Fira bilang begitu.
Ayo sudah kita pulang, ini udah malam, ucap Fira.
Ya sudah Fir, ucap aku.
Setelah aku mengetahui semua tentang Feni. Aku jadi memikirkan dia sampai-sampai mau tidurpun masih memikirkan dia. Akupun mulai mencoba buat mendekati Feni.  
Sampai pada waktunya lewat media facebook, aku mengungkapkan perasaanku ke Feni.
Fen, aku mau ngomong sama kamu.
Mau ngomong apa ?, ucap Feni.
Kapan ya aku bisa nembak kamu, jawab aku.
Apa alasan kamu mau nembak saya ?
Soalnya ada rasa cinta yang tumbuh dihati ini.
Terus apa apa maksud status facebookmu, butuh waktu itu ?
Maksud aku itu, aku butuh waktu untuk meyakini hatiku bahwa aku bisa bersamamu.
Sekarang kamu sudah yakin tidak ?, soalnya saya tidak suka setengah-setengah, ucap Feni ke aku.
Insya allah saya sudah yakin, ucap saya.
Terus ?, kata Feni.
Kita jadian, ucap aku ke Feni.
Ya sudah, kita jadian.
Aku dan Fenipun pacaran. Ternyata, apa yang dulu teman-temanku ucapkan menjadi kenyataan. Dua orang yang dulu tidak pernah akur sekarang menjadi bersatu. Sampai-sampai semua teman-teman kelas tidak percaya kalau saya sama Feni pacaran,  kata mereka “ sungguh tak kusangka kalian berdua bisa bersatu ”.
Jika kita berdua ingat kisah kita dulu yang selalu bertengkar, kita berdua selalu tersenyum. Karena kita berdua tidak pernah membayangkan kalau kita bisa bersatu. Benar kata orang kalau benci itu artinya benar-benar cinta.                 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar