Aku dan Kamu
Aku memasuki kelas baruku dan tentunya dengan teman
baru pula. Aku mengambil tempat duduk paling belakang dengan teman kelas
sepuluhku dulu.
Tak terasa aku sudah kelas sebelas dan mengambil
jurusan IPA sesuai dengan jurusan yang aku inginkan. Di kelas baruku ini tidak
ada seorangpun yang aku kenal selain teman kelas sepuluhku dulu, itupun hanya
ada 5 orang. Aku mencoba untuk beradaptasi dengan teman baruku. Setelah selang
waktu satu bulan, aku mulai mengenal mereka meskipun hanya separuh dari jumlah
siswa yang ada di kelas ini.
Di
kelas baruku ini, aku dan teman-teman
bermain dan bercanda ria. Tapi ada seorang wanita yang paling aku senang
ganggu, yaitu Feni. Setiap hari aku selalu gangguin dia di kelas, bahkan bisa
di bilang tiada hari tanpa gangguin
dia. Padahal aku dan dia tidak begitu
saling kenal, tapi entah mengapa aku senang sekali gangguin dia. Pernah suatu saat
Feni terlambat datang ke sekolah, bukannya aku menasehati atau bertanya ke dia
kenapa terlambat datang ke sekolah malah saya mengejek dia.
Makanya kalau bangun itu pagian biar tidak terlambat, ucap saya ke Feni sambil
tertawa.
Mau sih saya terlambat, kenapa kamu yang marah, ucap Feni ke saya dengan rauh wajah
yang kesal.
Jadi cewek kok tidak bisa bangun pagi, ucap saya ke
Feni.
Hey...urus saja urusamu sendiri, ngapain kamu urus-urusan
orang lain ?, ucap Feni ke saya.
Mau sih saya,
jawab saya sambil ter tawa.
Diam saja kamu tidak usah banyak omong, ucap Feni ke
saya.
Fenipun duduk di tempat duduknya dan mengikuti
pelajaran.
Meskipun jam belajar sedang berlangsung,
sempat-sempatnya saya masih mengejek Feni, tetapi disisi lain aku merasa kasian sudah
mengejek dia. Bukannya saya minta maaf
ke dia, malahan tetap saja
mengejek dia.
Hari-hariku di kelas selalu saja mengejek atau
menjaili Feni, tetapi meskipun aku
selalu mengejek atau menjaili dia, dia tidak pernah marah palingan dia hanya
bisa senyum dan membalas mengejek saya. Suatu ketika saya merasa menyesal
sudah mengejek, waktu itu dia ditilang
pak polisi pas berangkat ke sekolah. Sesampai di kelas dia menangis dan
menceritakan kejadian yang dia alami itu ke teman sebangkunya. Tanpa disengaja
aku mengetahui kalau Feni di tilang pak polisi, akupun mengejek dia.
Hey...teman-teman, kalian mau tahu sesuatu tidak,
ucap saya ke semua teman kelas.
Apa itu ?, ucap semua teman kelas.
Tadi ada
teman kita pas mau berangkat ke sekolah ditilang polisi terus dia nangis lagi,
jawab saya ke teman-teman sambil tertawa.
Feni yang merasa
dirinya disindir, langsung menatap saya dengan raut wajah yang amat marah, dan
berkata “ males saya sama kamu”.
Meskipun aku sudah dimarahin sama Feni, masih saja
aku mengolok dan menertawakan dia. Setelah beberapa hari berlalu, aku merasa
bersalah banget sama Feni dengan kejadian tempo hari yang lalu. Bukannya aku
prihatin sama dia, malah saya mempermalukan, mengolok dan menertawakan dia. Aku
berfikir, kalau saya ini jahat sekali sama orang.
Kejailan aku ke Feni bukan sampai di sana saja,
malah setiap hari saya selalu gangguin dia, ngolok dia. Sampai-sampai teman
kelas aku semua ngedoain aku pacaran sama Feni. Karena mereka semua menilai aku
cocok sekali jika aku pacaran sama Feni, sebab setiap hari mereka semua melihat
dan mendengarkan aku bertengkar sama Feni.
Haripun berlalu begitu cepat. Tiba – tiba rasa suka
itu ada buat Feni. Waktu itu di tempat futsal di luar jam pelajaran sekolah,
Feni dan teman akrabnya yaitu Fira, melihat aku dan teman-teman kelas sedang
bermain futsal. Perasaan aku begitu senang sekali ketika melihat Feni menonton
saya sedang main futsal, akupun bersemangat sekali mainnya. Tetapi perasaan
senang dan semangat itu tiba-tiba berubah, ketika aku sedang melihat Feni duduk
berdua dengan cowok lain yaitu mantan kekasihnya. Perasaan dan pikiranku jadi
tidak karuan setelah aku melihat Feni yang sedang duduk dengan mantan
kekasihnya itu. Akupun jadi tidak konsen di dalam lapangan, selalu memikirkan
Feni. Fenipun pulang dari tempat futsal itu bersama cowok mantan kekasihnya
itu. Kamipun selesai bermain futsal. Di luar lapangan, aku malah di olok-olok
sama teman- teman termasuk teman dekatnya Feni yaitu Fira.
Aduh, ada yang lagi sakit hati ini, ucap teman-teman
ke aku.
Siapa yang sakit hati, biasa saja kok, jawab aku.
Seandainya saya lihat orang yang saya taksir jalan
sama cowok lain, nangis sudah saya, teman-teman menyidirku.
Biasa saja sobat, jawab aku.
Tembak sudah dia, nanti diambil orang, ucap
teman-teman ke aku.
Siapa yang suka sama dia, jawab aku
Teman-temanku selalu saja mengolok-olok aku, tetapi
aku selalu menyangkalnya. Meskipun aku selalu menyangkalnya tetapi dihatiku
berkata lain bahwa aku itu ada rasa suka sama Feni.
Pada waktu malam hari, aku dan teman-temanku pergi
les fisika tetapi pak gurunya lagi sakit kamipun tidak jadi les dan kami
memutuskan pergi cari warung makan untuk makan. Beberapa saat kemudian kamipun
tiba di warung makan dan makan bersama. Selesai kami makan, teman dekatnya Feni
yaitu Fira memberi tahukan sesuatu tentang Fira.
Fira memanggilku. Sini sebentar saya mau ngomong
sama kamu.
Mau ngomong apa Fir ?
Kamu tahu tidak, kalau Feni itu suka sama kamu.
Kenapa dia suka sama aku ?, ucap aku ke Fira.
Kamu yang buat dia suka sama kamu, jawab Fira.
Lalu saya terdiam, ketika Fira bilang begitu.
Ayo sudah kita pulang, ini udah malam, ucap Fira.
Ya sudah Fir, ucap aku.
Setelah aku mengetahui semua tentang Feni. Aku jadi
memikirkan dia sampai-sampai mau tidurpun masih memikirkan dia. Akupun mulai
mencoba buat mendekati Feni.
Sampai pada waktunya lewat media facebook, aku
mengungkapkan perasaanku ke Feni.
Fen, aku mau ngomong sama kamu.
Mau ngomong apa ?, ucap Feni.
Kapan ya aku bisa nembak kamu, jawab aku.
Apa alasan kamu mau nembak saya ?
Soalnya ada rasa cinta yang tumbuh dihati ini.
Terus apa apa maksud status facebookmu, butuh waktu
itu ?
Maksud aku itu, aku butuh waktu untuk meyakini
hatiku bahwa aku bisa bersamamu.
Sekarang kamu sudah yakin tidak ?, soalnya saya
tidak suka setengah-setengah, ucap Feni ke aku.
Insya allah saya sudah yakin, ucap saya.
Terus ?, kata Feni.
Kita jadian, ucap aku ke Feni.
Ya sudah, kita jadian.
Aku dan Fenipun pacaran. Ternyata, apa yang dulu
teman-temanku ucapkan menjadi kenyataan. Dua orang yang dulu tidak pernah akur
sekarang menjadi bersatu. Sampai-sampai semua teman-teman kelas tidak percaya
kalau saya sama Feni pacaran, kata
mereka “ sungguh tak kusangka kalian berdua bisa bersatu ”.
Jika kita berdua ingat kisah kita dulu yang selalu
bertengkar, kita berdua selalu tersenyum. Karena kita berdua tidak pernah
membayangkan kalau kita bisa bersatu. Benar kata orang kalau benci itu artinya
benar-benar cinta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar